Pendahuluan

Perguruan tinggi di kawasan dengan potensi pariwisata besar seperti Nusa Tenggara Barat memiliki posisi yang unik. Di satu sisi, kampus dituntut menjalankan fungsi akademiknya secara utuh: pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Di sisi lain, kawasan tempat kampus itu berdiri sedang bergerak cepat sebagai destinasi wisata bertaraf nasional maupun internasional. Pertanyaannya kemudian bukan lagi apakah akademisi perlu terhubung dengan dunia industri pariwisata, melainkan bagaimana keterhubungan itu dibangun secara substantif, bukan sekadar formalitas administratif dalam laporan kinerja dosen.

Tulisan ini disusun dari pengalaman pribadi penulis sebagai dosen yang mengampu mata kuliah TEFL (Teaching English as a Foreign Language), Speaking, Metodologi Penelitian, dan Penelitian Kuantitatif di UNIQHBA, sekaligus sebagai pemilik dan pengelola aktif CV. Lombok Travelution, sebuah usaha jasa perjalanan wisata di Lombok. Pengalaman menjalankan dua peran ini secara bersamaan memberi perspektif bahwa jarak antara ruang kelas dan lapangan praktik pariwisata sesungguhnya tidak sejauh yang sering diasumsikan.

Tri Dharma sebagai Kerangka, Bukan Sekadar Kewajiban

Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, kerap dipahami sebagai tiga kewajiban administratif yang berjalan terpisah. Padahal, ketiganya dapat saling menghidupi ketika seorang akademisi memiliki titik pijak praktis di lapangan.

Pada dharma pendidikan, pengalaman mengelola usaha pariwisata memberi bahan ajar yang kontekstual. Ketika mengajar Speaking atau TEFL, misalnya, mahasiswa tidak hanya diperkenalkan pada teori komunikasi lintas budaya secara abstrak, tetapi juga pada situasi nyata: bagaimana seorang pemandu wisata perlu menyesuaikan register bahasa Inggrisnya ketika berkomunikasi dengan wisatawan dari Australia dibandingkan dengan tamu dari Timur Tengah atau Asia Timur, atau bagaimana kesalahan komunikasi kecil dapat memengaruhi persepsi tamu terhadap keseluruhan pengalaman perjalanan mereka.

Pada dharma penelitian, kompetensi metodologi penelitian kuantitatif yang diajarkan di kelas ternyata menjadi keterampilan yang setiap hari dipakai dalam pengelolaan bisnis. Menentukan topik konten digital yang layak diproduksi, mengevaluasi posisi pencarian di mesin pencari, atau membandingkan profil otoritas domain dengan kompetitor, pada dasarnya adalah kerja pengumpulan dan analisis data yang tidak jauh berbeda prinsipnya dengan menyusun instrumen penelitian dan menguji hipotesis. Bedanya hanya pada objek dan tujuan akhirnya.

Pada dharma pengabdian, posisi sebagai pelaku usaha membuka jalur kolaborasi yang lebih konkret antara kampus dan masyarakat, misalnya melalui keanggotaan aktif di asosiasi profesi seperti ASTINDO (Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia) dan AITTA, maupun kerja sama dengan media lokal untuk mengedukasi publik tentang praktik perjalanan wisata yang baik dan bertanggung jawab.

Ketika Metodologi Riset Turun ke Lapangan

Salah satu pelajaran paling berharga dari menjalankan usaha pariwisata sebagai seorang akademisi adalah menyadari bahwa metodologi penelitian bukan hanya kerangka untuk skripsi, tesis, atau disertasi. Metodologi itu adalah cara berpikir yang dapat diterapkan pada persoalan sehari-hari yang jauh dari ruang seminar.

Sebagai contoh, keputusan bisnis yang baik dalam industri pariwisata digital saat ini semakin bergantung pada data: perilaku pencarian calon wisatawan, pola konversi dari kunjungan situs web menjadi pemesanan, hingga evaluasi berkala terhadap konten yang dipublikasikan. Pendekatan ini pada dasarnya adalah penelitian terapan: mengumpulkan data, menganalisisnya secara sistematis, menarik kesimpulan, lalu menindaklanjutinya dengan perbaikan. Seorang praktisi pariwisata yang juga terlatih secara akademik dalam metodologi penelitian memiliki keunggulan dalam membaca data ini secara lebih kritis, tidak hanya mengandalkan intuisi atau tren sesaat.

Prinsip serupa berlaku pada standar layanan wisata di CV. Lombok Travelution: konsistensi kualitas pemanduan, keakuratan informasi destinasi, dan keselamatan tamu tidak dijaga secara kebetulan, melainkan melalui sistem yang terstruktur dan terus dievaluasi, sebagaimana prinsip penjaminan mutu yang jelas dan berbasis temuan diterapkan di lingkungan akademik.

Manfaat yang Berjalan Dua Arah

Relasi antara akademisi dan praktik pariwisata semestinya dipahami sebagai hubungan yang saling menguntungkan, bukan relasi satu arah di mana akademisi hanya "turun" membantu industri.

Dari sisi akademik, keterlibatan langsung di industri membuat pengajaran menjadi lebih berbasis bukti dan kontekstual. Studi kasus yang dibawa ke kelas bukan lagi contoh dari buku teks yang jauh dari realitas lokal, melainkan pengalaman langsung yang dapat didiskusikan dengan mahasiswa secara mendalam, termasuk kegagalan dan pembelajaran darinya.

Dari sisi industri, kehadiran pelaku usaha dengan latar belakang akademik yang kuat mendorong praktik bisnis yang lebih berbasis data dan berorientasi jangka panjang, alih-alih sekadar mengikuti tren pemasaran musiman. Ini menjadi penting khususnya bagi industri pariwisata di daerah, yang sering kali harus bersaing dengan pelaku usaha berskala lebih besar yang memiliki sumber daya pemasaran jauh lebih besar, namun belum tentu memiliki pemahaman metodologis yang lebih kuat.

Implikasi bagi Perguruan Tinggi

Pengalaman ini menyiratkan beberapa hal yang relevan dipertimbangkan oleh perguruan tinggi, khususnya di kawasan dengan potensi pariwisata seperti Lombok dan Nusa Tenggara Barat secara umum.

Pertama, kampus perlu semakin membuka ruang bagi dosen untuk terlibat aktif sebagai praktisi di sektor riil, bukan semata mendorong publikasi akademik yang terpisah dari persoalan lapangan. Pengalaman praktis semacam ini, jika dikelola dengan baik, justru dapat memperkaya kualitas pengajaran dan penelitian, bukan menguranginya.

Kedua, terbuka peluang kolaborasi riset terapan antara program studi dengan pelaku usaha pariwisata lokal, misalnya penelitian tentang kebutuhan kompetensi bahasa Inggris tenaga kerja pariwisata, atau kajian tentang perilaku digital wisatawan yang berkunjung ke Lombok.

Ketiga, program pengabdian kepada masyarakat dan magang mahasiswa dapat diarahkan lebih konkret ke sektor pariwisata lokal, memberi mahasiswa pengalaman langsung yang relevan dengan potensi ekonomi daerah, sekaligus memperkuat jejaring kampus dengan asosiasi profesi dan pelaku usaha di sekitarnya.

Penutup

Menjadi dosen sekaligus pelaku usaha pariwisata melalui CV. Lombok Travelution bukanlah upaya untuk mendua antara dunia akademik dan dunia praktis, melainkan cara untuk menghidupkan Tri Dharma Perguruan Tinggi secara lebih utuh. Ruang kelas dan rute wisata, pada akhirnya, dapat menjadi dua ruang yang saling memperkaya: satu memberi kerangka berpikir yang sistematis, yang lain memberi konteks nyata untuk mengujinya. Bagi perguruan tinggi yang berada di kawasan destinasi wisata, menjembatani kedua dunia ini bukan sekadar pilihan, melainkan sebuah keniscayaan untuk tetap relevan dengan denyut ekonomi dan kebutuhan masyarakat di sekitarnya.